Ketua Komnas HAM: Berbisnis Harus Perhatikan HAM

Dia mengatakan jika lalai dalam berbisnis maka akan menimbulkan risiko, misalnya masyarakat yang tidak dapat menfaat atau malah merugikan, akan menimbulkan konflik sosial dan akibatnya operasi bisnis tidak berjalan lancar.
Kesempatan bisnis yang diharapkan tidak dapat diwujudkan.
“Jika ada kasus hukum dari praktik bisnis, itu akan menambah biaya perusahaan, karena harus ada upaya hukum, biaya pengacara, biaya konpensasi jika terbukti merugikan pihak lain,” katanya.
Menurut Atnike, pengusaha mengkhawatirkan reputasi buruk dari perusahaan dan produk yang dihasilkan. Hal ini merusak branding, perusahaan dan sektor usaha.
“Ini kerugian bagi peluang bisnis. Dalam jangka ang panjang, hilangnya kesemoatanbisnis yang lebih besar seperti investor,” ujar Atnike.
Dia mengatakan jika sektor bisnis menghormati HAM, maka sektor bisnis akan mendapat peluang yang lebih, misalnya investor akan lebih tertarik memberikan atau menambah investasi, mitra bisnis bertambah besar, produktivitas makin tinggi.
Dalam skala global, sektor bisnis dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan berkelanjutan dan bisnis akan terus berkembang.
Dia mengatakan dalam tradisi HAM yang klasik, HAM memang tidak melekat pada bisnis tetapi negara atau pemerintah.
Banyak aspek HAM yang lain pada dasarnya juga serius, tetapi belum banyak dibicarakan dalam kaitan HAM, misalnya terkait bisnis.
- Ambil Alih 99% Saham CKBD, CBDK Hadirkan Hotel Bintang 5 di Kawasan NICE
- Hizrah Bacan Fokus Mengembangkan Bisnis Madu Hijau
- Ralali Siap Dukung Perjalanan Mudik Lebih Nyaman
- Teror ke Tempo Dianggap Melanggar HAM, Polisi Diminta Usut Secara Transparan
- Berkah Ramadan, Petrokimia Gresik Blusukan hingga Gelontorkan Bantuan Rp 2 Miliar
- Tokoh Agama Minta Masyarakat Papua Tak Terprovokasi Isu Pelanggaran HAM