Kisah Bocah Cantik Ini Mengharukan, Melihat Bunga Ingat Almarhum Ibunya

Santana mengaku hampir tidak pernah libur dalam berjualan. Dalam sebulan, mungkin hanya sehari dia tidak berjualan karena kecapekan.
”Saya pulang sekolah jam 14.00, istirahat, terus salat Magrib, lalu berangkat jualan pukul 18.00. Jam 22.00 saya pulang, biasanya tidur jam 23.00, paginya ya sekolah,” tutur Santana.
Dia menjelaskan, setelah kuenya habis, dirinya tidak bisa langsung pulang, karena harus menunggu kakaknya menjemput sekitar pukul 22.00. Sehingga meski kuenya sudah habis sejak pukul 21.00, dia tetap berada di tempatnya jualan.
”Alhamdulillah hingga saat ini kuenya selalu habis. Bahkan saya juga punya beberapa pelanggan tetap yang tiap ke MOG selalu beli kue saya,” katanya lalu menguap menahan kantuk.
Dikatakannya, setiap malam dia bisa menjual kue basah sebanyak 30-35 biji. Masing-masing kue seharga Rp 2000. Selain itu, dia juga berjualan ikat rambut sebanyak 20 biji yang masing-masing seharga Rp 7.500.
Namun, untuk ikat rambut jarang sekali terjual. Jika terjual, sehari paling hanya satu biji. Kue dan ikat rambut itu dikulakkan oleh kakaknya.
”Saya hanya jual. Nanti uang kulakan saya berikan kakak. Saya ambil untung Rp 500 rupiah per biji kue atau ikat rambut. Jadi untungnya sehari antara Rp 15.000 hingga Rp 17.500,” jelas Santana.
Dari keuntungannya tersebut, Santana gunakan untuk membayar sekolah Rp 10 ribu per bulan. Selebihnya untuk jajan di sekolah dan sebagian dia tabung.
SANTANA Saharani Utami (12). Sejak umur 8 tahun, dia harus berjualan kue di parkiran belakang MOG (Mal Olympic Carden), Malang, Jatim, demi
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara