Kisah Solachudin, Berhaji Bersama 12 Anggota Keluarga berkat Ganti Rugi Lapindo
Janji Doakan Aburizal Bakrie di Mekkah
Kamis, 22 Oktober 2009 – 13:00 WIB

Solachudin (berpeci putih) bersama istri dan anaknya sedang membenahi perlengkapan haji. (foto: thoriq/jawapos)
Berbagai persyaratan untuk pencairan dia persiapkan. Misalnya, surat-surat rumah, pernyataan saksi, foto rumah, dan beberapa syarat yang ditetapkan Lapindo Brantas Inc. Ada lima berkas yang harus dia persiapkan. Kelima berkas itu terdiri atas berkas tanah sawah, tanah pekarangan, dan bangunan.
Lapindo membeli tanah, sawah, dan bangunan milik warga itu sesuai dengan jenis sertifikatnya. Tanah sawah dibeli Rp 120 ribu per meter persegi, tanah pekarangan Rp 1 juta per meter persegi, dan bangunan Rp 1,5 juta per meter persegi. Demi mendapatkan haknya, Solachudin terus mengurus persyaratan yang ditentukan.
Tidak jarang, Solachudin ditemani istri mondar-mandir ke rumah kepala desa Kedungbendo untuk mengurus persyaratan itu. "Saya kumpulkan sertifikat rumah dan tanah," tutur pria yang purnatugas di Depag Sidoarjo pada 1999 itu.
Qoyumi, sang istri, tidak pernah bosan menemani Solachudin mengurus semua persyaratan itu. Dia kerap ikut suami datang ke balai desa sehingga banyak perangkat yang mengenalnya. Hingga suatu hari, ada perangkat yang tidak sengaja bertanya. "Katanya uangnya buat apa," ujar Qoyumi menirukan. "Saya jawab, uang muka 20 persen untuk haji sekeluarga," jawab dia dan ternyata itu menjadi doa yang dikabulkan.
Bencana semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, rupanya membawa berkah bagi Solachudin, 70. Tahun ini dia dan 12 anggota keluarganya berangkat haji.
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara