Kisah Warga Indonesia Bertahan dalam Badai Ekonomi Akibat Lockdown di Melbourne

Pembatasan sosial tahap empat di Melbourne juga berpengaruh kepada Amazia Pravianti Tanuatmadja, mahasiswi Master of Education di Monash University.
Amazia sempat bekerja di restoran Indonesia di Clayton selama satu bulan, sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti, ketika jumlah kasus di Melbourne semakin meningkat.
"Saya khawatir dengan kasus yang meningkat dan orangtua saya di Indonesia juga khawatir. Akhirnya saya memutuskan berhenti,” kata Amazia yang bekerja untuk memperoleh uang saku.
Untuk memenuhi kebutuhannya, sejak April lalu, lulusan S1 Sastra Inggris Universitas Kristen Maranatha Bandung tersebut mengajar Bahasa Inggris online untuk murid-murid di Indonesia.
"Saya membantu usaha teman di Indonesia yang kebetulan punya kursus Bahasa Inggris online," kata Amazia kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.
"Jumlah murid tergantung kadang ada private atau ada kelas regular, yang satu kelas bisa sampai 15 orang."
Ia berharap agar kondisi di Victoria, khususnya Melbourne, bisa cepat pulih sehingga dapat mencari pekerjaan baru.
"Saya tetap ingin mencari pekerjaan di Melbourne kalau bisa, karena jamnya lebih enak juga. Itu juga akan membantu tidak merepotkan keluarga karena biaya pendidikan yang sudah mahal."
Sudah 16 tahun Zurlia Usman, asal Malang, membuka sebuah butik di Melbourne. Dengan aturan pembatasan tahap keempat terkait pandemi COVID-19 bisnis itu terpaksa tutup
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi