Kisah Yaimun, Mengabdi Jadi Kepala Desa di Kampung Idiot
Pernah Kesal dengan Dokter yang hanya Beri Ceramah
Selasa, 08 Maret 2011 – 08:08 WIB

Yaimun, Kepala Desa Pandak, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.
Berbagai proposal untuk pembangunan di desanya sudah banyak dia bikin. Tetapi, cibiran dan tidak diindahkannya proposal itulah yang kerap dia dapat. Padahal, permintaan pria kelahiran 1973 itu cukup sederhana: segera dibangun akses jalan untuk transportasi. "Percuma diberi bantuan makan, kalau kami tetap terisolasi di sini," paparnya.
Desa Pandak memang seperti terisolir. Memasuki kawasan itu pengunjung harus melewati jalan yang cukup panjang yang kanan kirinya berupa sawah atau hutan. Sembako sudah masuk ke Pandak meski akses transportasi sulit. "Butuh sedikitinya 8 km perjalanan untuk bisa dapat sembako," jelasnya.
Tidak hanya itu, minimnya akes transportasi juga membuat 3.980 warga di desa itu terkungkung di wilayahnya. Roda perekonomian jelas macet karena warga tidak bisa leluasa menjual hasil sawah mereka. Untuk jagung misalnya, di Pandak harga sekilonya hanya Rp 2.000. Padahal, di luar desa bisa ditebus hingga Rp 3.200. "Jual beli hanya berputar di dalam desa," terangnya.
Musim kemarau dinilai Yaimun lebih parah. Semua pohon dikawasan Pandak akan kering. Air menjadi sulit untuk dicari. Saat musim hujan seperti ini saja, satu sumur yang memiliki kedalaman hingga 30 meter digunakan ramai-ramai oleh warga hingga radius 300 meter. "Di sini memang serba susah," tuturnya.
Jika di desa lain, menjadi kepala desa (kades) adalah jabatan menggiurkan hingga sampai diperebutkan, mungkin itu tidak berlaku di Desa Pandak, Kecamatan
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara