Klub-klub Liga-2 Merasa jadi Anak Buangan

Padahal, sudah sebulan terakhir mereka sudah melakukan persiapan tim. "Namun, kami juga butuh kepastian kompetisi. Karena, kalau belum pasti, maka pelatih juga akan sulit menentukan peak performance pemain," ujar Fahmi.
Pria yang juga anggota DPRD Kabupaten Tuban itu lantas menjelaskan bahwa mereka sudah berusaha membangun komunikasi dengan dengan Sekjen PSSI Ade Wellington terkait kepastian kompetisi musim baru nanti.
"Tapi, setiap kali komunikasi, jawaban yang kami terima adalah nanti dulu, nanti dulu," papar Fahmi.
Komentar tidak kalah keras bahkan diungkapkan oleh pelatih Martapura FC, Frans Sinatra Huwae yang menyebutkan bahwa ada diskriminasi sistematis yang sedang dipertontonkan oleh PSSI dalam membangun sepak bola tanah air.
"Kami tim-tim yang di Liga - 2 bukan lagi seperti anak tiri, tapi anak buangan yang tidak diperhatikan oleh induknya," kata Frans.
Alasan Frans tersebut berkaitan dengan PSSI yang hanya memfasilitasi turnamen pra musim kepada tim-tim Liga - 1 (Indonesia Super League) lewat Piala Presiden.
Sementara untuk tim - tim Liga-2 belum ada pergerakan apa-apa. "Jadi, kami ini sebenarnya dianggap atau nggak sih oleh federasi," tegasnya.
Secara terpisah, Sekjen Ade Wellington mengungkapkan bahwa, mereka sudah mengetahui keresahan klub tersebut.
Klub-klub Liga - 2 atau yang sebelumnya dikenal dengan nama Divisi Utama, kini mulai resah.
- Target PSSI Setelah Timnas Indonesia Masuk Ranking 123 FIFA
- PSSI Identifikasi Pria yang Merebut Jersei Marselino dari Anak Kecil, Hukuman Berat Menanti
- PSSI Berikan Sanksi Keras Terhadap Oknum Suporter Timnas Indonesia yang Merokok di SUGBK
- Erick Thohir Bersama Legenda Belanda Mulai Membicarakan Program Pembinaan Pemain
- Target Realistis PSSI saat Timnas Indonesia Bertamu ke Australia
- Pesan Erick Thohir untuk Garuda Muda di Piala Asia U-17: Tunjukkan Permainan Terbaik