Kompor Politik
Oleh: Dahlan Iskan
jpnn.com - SAYANG, program pergantian elpiji ke kompor listrik dimulai dari isu yang kurang simpatik: untuk mengatasi kelebihan listrik di Jawa.
Dengan isu itu seolah pergantian ini hanya untuk kepentingan PLN. Agar PLN tidak rugi. Agar PLN tidak dituduh salah dalam membuat perencanaan, sampai terjadi kelebihan.
Atau, jangan-jangan motif utamanya memang itu.
Memang terjadi kelebihan pasokan listrik yang sangat besar di Jawa. Pembangkit-pembangkit raksasa, milik swasta, selesai dibangun.
Unit yang kapasitasnya 1.000 MW/unit saja ada 4 buah. Di Banten. Di Cilacap. Di Batang ada dua, milik Adaro. Di utara jalan tol Jakarta-Semarang itu.
Empat raksasa itu sekaligus lambang kehebatan Indonesia: mampu memiliki pembangkit raksasa seperti di negara maju.
Itulah unit terbesar PLTU yang mampu dibangun manusia. Tidak ada yang lebih besar dari itu. Harus dengan sistem super-super kritikal.
PLN harus membeli semua listrik itu. Akan tetapi PLN kesulitan menjual sampai habis.
Dahlan menulis soal peralihan elpiji ke kompor listrik. Singgung soal capres yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi sampai 7 persen saat tahun politik Pilpres.
- Kabinet Ramping
- Dukung Hilirisasi, Bea Cukai Ternate Fasilitasi Ekspor Perdana Feronikel dari Pulau Obi
- Danantara Dinilai Mampu Wujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
- Digitalisasi Pertamina Kunci Efisiensi, Memperkuat Ketahanan dan Swasembada Energi
- Anak Pungut
- Perekonomian Indonesia 2025 Tetap Solid di Tengah Ketidakpastian Global