Korbankan 400 Karyawan, The Guardian Selamat dari Kematian

jpnn.com, LONDON - Beberapa tahun terakhir, ratusan karyawan The Guardian harus kehilangan pekerjaan karena perusahaan media itu berada di ambang kematian alias bangkrut. Kini pengorbanan itu mulai membuahkan hasil.
Dalam waktu tiga tahun, The Guardian mengalami perubahan signifikan. Bahkan, tahun depan, koran yang versi cetaknya tampil lebih ringkas dalam model tabloid tersebut sudah bisa balik modal.
”Kami diminta memangkas ongkos produksi dan menerapkan sistem berbayar untuk edisi online karena pendapatan berkurang,” kata Katharine Viner, editor-in-chief media cetak milik Guardian Media Group (GMG) tersebut, sebagaimama dilansir The Economist Sabtu (20/1).
Sebelum dia menjabat, GMG merumahkan sekitar 400 karyawannya dalam waktu dua tahun. Semua dilakukan demi penghematan.
Berbagai cara dilakukan The Guardian agar bisa bertahan. Bukan perkara mudah. Apalagi, Viner memutuskan untuk tetap menggratiskan edisi online.
”Kami menerapkan sistem donasi dan keanggotaan. Kini, kami punya total 600 ribu donatur dan pelanggan di seluruh dunia. Pemasukan dari sana bahkan mengungguli pendapatan iklan,” terang Viner.
Selain pelanggan online, The Guardian memiliki 200 ribu pelanggan cetak. (hep/c17/dos)
Koran Inggris, The Guardian sukses keluar dari jurang kebangkrutan dalam waktu tiga tahun
Redaktur & Reporter : Adil
- Kanselir Jerman Sebut Donald Trump Merusak Tatanan Niaga Global
- Lebih dari 3.000 Orang Tewas Akibat Gempa Myanmar
- Update Gempa Myanmar: Korban Meninggal Dunia Mencapai 2.800 Orang
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Gempa Bumi Kembali Terjadi di Myanmar Hari Ini
- Korban Tewas Gempa Myanmar Mencapai 2.700 Orang, BNPB Beri Info soal WNI