Kota Imigran

Dilihat dari jumlahnya, Liverpool juga termasuk salah satu yang memiliki paling banyak warga baru, dengan kebanyakan warga Iraq dan Suriah yang tiba setelah perang di Irak di tahun 2003, gelombang 'Arab Spring' serta perang Suriah.
'Tanah dengan banyak kesempatan'
Zinah mengatakan keluarganya tinggal di Liverpool agar bisa dekat dengan saudaranya yang sudah ada di sana lebih dulu.
Ketika ia sudah berusia 17 tahun dan selesai dari bangku SMA, ia kemudian kuliah di bidang pekerjaan sosial.
“Dikelilingi orang yang berbicara bahasa yang sama dan dari budaya dan tradisi yang sama juga membuat proses bermukim lebih mudah," ujarnya.
“Di Liverpool kita punya kesempatan bertemu dengan orang dari latar belakang berbeda, sangat menarik bagi para pencari suaka dan pendatang, jadi kita tidak merasa sendirian atau terisolasi ... juga membuat proses transisi lebih mudah dan saya merasa jadi bagian dari komunitas ini."
“Sangat sedih meninggalkan Timur Tengah meski banyak pengalaman pahit, tapi saya ingin meneruskan pendidikan dengan damai dan dibesarkan tanpa terus diliputi rasa ketakutan."
Seak Ay Lam adalah warga pendatang lain yang menemukan kedamaian tinggal di Liverpool.
Ia telah tinggal di Australia hampir tiga puluh tahun setelah keluarganya keluar dari Kamboja di bawah rezim brutal Khmer Merah di awal tahun 1980-an sebagai pengungsi saat ia berusia 17 tahun.
Dengan lebih dari 120 suku dan 140 bahasa yang dipakai, kawasan di Australia ini menjadi saksi bagaimana para pendatang berjuang dan berharap untuk mencapai mimpi mereka
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang