Kota Imigran

Dengan keluarga beranggotakan 14 orang, termasuk sembilan anak-anak dan tiga kakek nenek, yang tinggal di sebuah hostel khusus migran yang dibangun oleh Pemerintah di sebelah barat Sydney.
“Ketika kita pertama kali datang ke sini, semuanya sangat menyenangkan dan serba asri, seperti surga di bumi," kata Seak.
"Saat itu tidak banyak orang Kamboja … untungnya sepupu ayah saya tinggal di sini. Setiap kali dia datang mengunjungi kami, ia menceritakan soal Australia."
Seak mengambil kursus bahasa Inggris di tingkat TAFE sambil bekerja di pabrik plastik. Ia memperhatikan kawasan barat Sydney juga banyak memiliki pekerjaan manufaktur.
“Australia punya banyak kesempatan kerja,” katanya. "Tanah dengan banyak kesempatan."
Seak bekerja setiap hari dalam seminggu di kawasan Liverpool,, Fairfield, Cabramatta dan pusat kota Sydney, sebagai juru ketik untuk kantor pemerintahan, pekerja di pertanian dengan gaji AU$50, dan lainnya.
“Mengantarkan koran sangat menantang, saya khawatir anjing akan mengejar kami, orang-orang berteriak menyumpahi kami, tapi kakak saya bilang, 'jangan khawatir, bilang saja terima kasih'."
Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. 22 tahun lalu, ia dan suaminya membeli sebuah toko kecil di Liverpool, kemudian berjualan barang-barang dari kulit.
Dengan lebih dari 120 suku dan 140 bahasa yang dipakai, kawasan di Australia ini menjadi saksi bagaimana para pendatang berjuang dan berharap untuk mencapai mimpi mereka
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi