KPK Menduga Uang Suap dari 5 Pj Kades Diserahkan kepada Hasan Aminuddin
jpnn.com, JAKARTA - Penyidik KPK menduga lima Penjabat (Pj) Kepala Desa di Kabupaten Probolinggo menyetorkan sejumlah uang kepada para camat sebagai suap untuk Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari (PTS).
Oleh camat, uang suap dari para PJ Kades itu kemudian diserahkan kepada anggota DPR RI Hasan Aminuddin (HA) sebagai perwakilan dari istrinya, Puput Tantriana Sari.
Dugaan itu didalami penyidik KPK dengan memeriksa lima Pj Kades itu sebagai saksi di Polresta Probolinggo, Senin (27/9).
Para Pj Kades yang diperiksa ialah Pj Kades Jambangan Kecamatan Besuk Sri Sukarsih, Pj Kades Pakel Kecamatan Sukapura Hendrik Wiyoko, Pj Kades Kedungsupit Kecamatan Wonomerto Mohamad Yunus.
Kemudian, dua lainnya Pj Kades Sebaung Kecamatan Gending Sutik Mediantoro dan Pj Kades Sukodadi Kecamatan Paiton Yono Wiyanto.
"Seluruh saksi hadir dan dikonfirmasi antara lain mengenai dugaan adanya pemberian sejumlah uang kepada Camat yang terkait dengan perkara ini untuk selanjutnya diserahkan kepada HA sebagai perwakilan dari PTS," ujar Plt KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (28/9).
KPK sudah menetapkan 22 orang sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan kades di lingkungan Pemerintah Kabupaten Probolinggo pada 2021.
Dua di antaranya ialah Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya, anggota DPR RI yang pernah menjabat sebagai Bupati Probolinggo dua periode, Hasan Aminuddin.
KPK menduga lima Pj Kades di Probolinggo memberikan uang suap kepada Bupati Puput Tantriana Sari melalui Hasan Aminuddin agar jabatannya aman.
- Kasus Korupsi Proyek APD Covid-19, KPK Jebloskan Pengusaha Ini ke Sel Tahanan
- Inilah Putusan KPK soal Penggunaan Jet Pribadi Kaesang bin Jokowi
- KPK Sarankan Semua Pihak Profesional Saat Tangani PK Mardani Maming
- Debat Pilgub Jateng: Andika Sebut Indeks Demokrasi dan Pelayanan Publik Menurun
- KPK Panggil Auditor Utama BPK terkait Kasus Korupsi X-Ray di Kementan
- Usut Kasus Korupsi Rp100M di PT INTI, KPK Panggil Direktur Danny Harjono dan Tan Heng Lok