Luky Yusgiantoro Bicara Masa Depan Indonesia pada Era Energi Baru Terbarukan

Selain itu, perlu mengembangan PLTU, elektrifikasi, CCS/CCUS.
“Ke depan, perlu desentralisasi sistem pembangkit, transmisi, distribusi, dan pasar energi,” ujar Luky.
Pengamat Energi Terbarukan Dr. Ali Ahmudi Achyad menyampaikan pandangan terkait optimalisasi pengembangan Energi Baru dan Terbarukan untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Ahmudi menilai konsumsi energi terus meningkat, namun masih bergantung pada energi fosil yang terbatas.
“Ketahanan energi nasional di titik kritis akibat ketergantungan pada energi fosil. Pandemi Covid-19 berdampak luas terhadap kebutuhan energi nasional,” ujar Ahmudi.
Menurut Ahmudi, definisi dan kebijakan energi mencakup energi fosil, energi terbarukan, dan energi baru terbarukan.
“Kebijakan energi nasional bertujuan untuk menciptakan keamanan pasokan energi dalam negeri,” ujar Ahmudi.
Pada kesempatan itu, Ahmudi menyoroti tantangan yang dihadapi bangsa ke depan, yaitu keterbatasan sumber daya energi fosil, impor energi, harga energi rendah, dan subsidi yang membengkak.
Luky A Yusgiantoro menyampaikan pandangannya terkait masa depan Indonesia pada Era Energi Baru Terbarukan dari perspektif bisnis.
- Teknologi BLES dan Energi Matahari, Langkah Hijau Menuju Masa Depan Berkelanjutan
- Australia & Indonesia Siapkan Anggaran Rp 40 Miliar untuk Riset Transisi Energi Berkelanjutan
- PLN IP Targetkan Pengembangan Pembangkit Listrik Berbasis EBT Sebesar 2,4 GWh
- Upaya Pertamina Tekan Emisi Karbon dengan Mengoptimalkan EBT dan Bioenergi
- Dasco Terima Dubes Singapura di DPR, Bahas Kerja Sama Energi Baru Terbarukan
- Dirut Pertamina Kunjungi Desa Energi Berdikari Uma Palak Lestari di Denpasar Utara Bali