Mahasiswa Internasional Tidak Adanya Kepastian dari Pemerintah Australia

Clarissa adalah mahasiswi program Bachelor of Science pada University of Melbourne, yang mengajukan permohonan visa pelajar pada bulan Oktober tahun lalu.
Saat itu dia sudah mengetahui bahwa perbatasan Australia masih ditutup untuk mahasiswa internasional.
"Ketika perbatasan nantinya dibuka, saya tak perlu khawatir untuk mengajukan visa lagi dan langsung bisa pergi ke Australia," katanya.
Dia mengatakan tidak keberatan membayar karantina hotel untuk masuk ke Australia dan menghadiri kuliah di kampus.
"Saat saya memutuskan untuk kuliah di Australia, saya berharap bisa mendapatkan pengalaman, bagaimana rasanya tinggal dan kuliah di sana," ujarnya.
"Tak banyak yang saya dapatkan dari kelas (online), dan sangat sulit membangun pertemanan dari kuliah online."
Mempertimbangkan kuliah di negara lain
Ketua kelompok mahasiswa Asian International Students of Australia, Kalyan Cherukuti, menyebutkan reputasi negara ini sebagai penyedia jasa pendidikan sedang terancam.
"Saat ini situasinya sangat jelek dari segi branding," ujarnya kepada ABC.
Sempat pulang ke Jakarta, Trisha Ramadhania tak pernah menyangka harus menjalani lebih dari separuh masa kuliahnya di perguruan tinggi Australia secara online
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana