Mahasiswa UGM Kunjungi Darwin Untuk Pelajari Hukum Migrasi dan Suaka

Topik ini kadang memicu ketegangan antara pemerintah Australia dan Indonesia, karena dilihat dari sejarah Australia menandatangani konvensi Jenewa tentang penerimaan pencari suaka, sementara Indonesia tidak melakukannya.
Menurut Mailinda, Indonesia tidak menandatangani konvensi mengenai pencari suaka karena kondisi internal belum memungkinkan, misalnya secara ekonomi.
"Tetapi, saya melihat ada niat yang sangat baik dari pemerintah Indonesia, meski tidak ikut menandatangi seperti Australia, misalnya banyak lembaga swadaya masyrakat yang ikut membantu para pencari suaka," jelas Mailinda.
Melalui kunjungan seperti ini diharapkan para mahasiswa kedepannya dapat terlibat dalam diskusi-diskusi intensif soal pencari suaka dan migrasi.
Sehingga kedepannya bisa lebih banyak kesepakatan diantara Indonesia dan Australia yang menguntungkan banyak pihak-pihak terkait.
Salah satu mahasiswa UGM yang ikut dalam program ini adalah Bram Purwadi, yang mengambil fokus pada hukum bisnis.
"Ada satu hal yang baru lewat program ini, jadi bisa mengetahui soal hukum migrasi dan suaka," ujar Bram.
Topik pencari suaka dan migrasi kerap hangat dibicarakan antara Indonesia dan Australia. Darwin menjadi salah satu kota yang memiliki peranan penting
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana