Maryani dan Ponpes Khusus Waria di Jogjakarta
Cari Sangu sebelum Naik Keranda
Kamis, 03 Maret 2011 – 08:08 WIB

Maryani dan Ponpes Khusus Waria di Jogjakarta
Dia mulai aktif dalam pengajian yang diasuh Kiai Amroni sekitar 20 tahun silam. Dialah satu-satunya waria di antara sekitar 3.000 jamaah yang aktif mengikuti pengajian tersebut. Dari kondisi itulah, Maryani lalu berpikir untuk memberikan wadah bagi kaum waria agar bisa bebas menjalankan ibadah tanpa harus menghadapi penolakan dari berbagai pihak.
"Kadang waria ingin masuk ke masjid saja dilarang. Di sini (ponpes) mereka bisa beribadah dengan bebas," tegasnya.
Menurut dia, hidup tidak lebih dari perhentian sementara menuju dunia yang kekal. Karena itu, dia merasa perlu mengisi kehidupannya di dunia dengan hal-hal positif. "Kita sewaktu-waktu pasti naik keranda. Nah, saya perlu nyari sangu dulu kalau sewaktu-waktu ditimbali Gusti Allah," jelas Maryani.
Sebelum menetap di kampung halamannya, dia sempat bertualang di beberapa kota lain. Dia pernah bekerja sebagai petugas cleaning service sekaligus penata rambut di sebuah salon di Semarang. "Saya belajar nyalon, tapi juga ngepel-ngepel lantai," ungkapnya.
Dua petak ruangan kecil di rumah Maryani, kawasan Notoyudan, Jogjakarta, kalau malam disulap menjadi tempat salat. Beberapa ruangan di belakang rumahnya
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara