Media Amerika Serikat Menggambarkan Jokowi & Gibran Merusak Demokrasi
Pencalonan Gibran sebagai cawapres juga menuai polemik, karena harus melewati drama di Mahkamah Konstitusi, yang berakhir dengan pencopotan pamannya Gibran, yakni Anwar Usman dari kursi Ketua MK.
Jokowi berusaha menangkis kritik terhadap manuver politik tersebut, dengan bercanda bahwa hal seperti itu bak drama Korea.
"Akhir-akhir ini disuguhi terlalu banyak drama, terlalu banyak drama Korea, terlalu banyak sinetron,” katanya dalam acara Golkar.
Namun, banyak analis yang menuding Jokowi mendalangi tontonan semacam itu dari balik layar selama bertahun-tahun, dengan tujuan untuk memperluas pengaruhnya setelah masa jabatannya berakhir.
“Ini bukan drama. Ini adalah rekayasa yang direncanakan,” kata seorang dosen di Universitas Indonesia Titi Anggraini.
Dosen di Murdoch University, Perth Ian Wilson mengamini hal tersebut. “Dia (Jokowi) pengin memberi kesan tidak terikat karena itu gaya politiknya, tetapi dialah yang paling mendukungnya,” ujarnya.
Wilson yang telah lama mempelajari Indonesia, menggambarkan manuver Jokowi sebagai bagian dari tren anti-demokrasi.
“Jokowi punya kecenderungan otokratis, begitu juga dengan Prabowo," katanya.
Di Solo atau Surakarta, kota yang dipimpin Gibran bin Jokowi, sebagian calon pemilih belum terkesan dengan pencalonan Gibran.
- Pilwalkot Semarang 2024: Restu & Doa Jokowi untuk Yoyok-Joss
- Lihat Senyum Jokowi saat Kampanye Luthfi-Yasin di Simpang Lima Semarang
- Hercules Perintahkan Kader GRIB Jaya Menangkan Ridwan Kamil-Suswono di Pilgub Jakarta
- Dukungan Anies untuk Pram-Rano Bakal Berdampak Signifikan
- Agung Sebut Pilkada Jateng Jadi Ajang Pertarungan Efek Jokowi vs Megawati
- Agustiar-Edy Siap Menjalankan Program Asta Cita Prabowo Demi Menyinkronkan Pembangunan Kalteng