Membedah Dampak Keputusan BukaLapak Lakukan PHK

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengomentari keputusan BukaLapak yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
“Idealnya, semakin penjualan naik, CS-nya ditambah, bukan malah di-PHK," kata Bhima, Jumat (13/9).
Bhima menambahkan, modal ventura atau investor yang menyuntik dana ke e-commerce memiliki keterbatasan.
Apalagi, sejumlah negara asal investasi dari AS, negara-negara Eropa, Jepang, dan Tiongkok sekarang ini sedang mewaspadai resesi ekonomi global.
"Pastinya akan berpengaruh pada suntikan modal yang disalurkan ke Indonesia. Entah secara langsung ke Bulalapak atau lewat PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)," tuturnya.
Dia khawatir BukaLapak tutup jika investor tidak kuat lagi menghadapi persaingan promo besar-besaran.
“Ada kekhawatiran, pada ujungnya kalau investornya sudah tidak kuat menyuntik modal, dia akan merger atau akan dijual ke perusahaan e-commerce yang lebih besar," ungkap Bhima.
Hal tersebut pernah terjadi di bidang transportasi online. Dari yang tadinya ada sepuluh perusahaan kini tersisa dua.
Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara mengomentari keputusan BukaLapak yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
- BUKA Beberkan Bukti dalam Sidang Lanjutan PKPU Melawan Harmas Jalesveva
- INDEF: Penghentian PSN Tanpa Kajian Bisa Merusak Kredibilitas Pemerintah
- Hilirisasi Tembaga Jadi Langkah Strategis Memperkuat Industri Nasional
- Bukalapak Resmi Mengajukan Permohonan PKPU terhadap Harmas
- Bukalapak Berkomitmen Perkuat Bisnis Investasi Lewat BMoney
- Wujudkan Pertumbuhan 8%, Indonesia Butuh Investasi Rp 7.000 Triliun Per Tahun