Menegangkan, Menembus Penjagaan Superketat Nusakambangan

Petugas melarang rombongan membawa barang apa pun saat masuk. Terutama handphone (HP), kamera, dan barang-barang sensitif lainnya. Maka, barang-barang pengunjung harus dimasukkan loker yang disediakan di ruang itu.
Pemeriksaan belum berakhir. Petugas meminta pengunjung untuk mengangkat ujung celana yang dikenakan, kaus kaki dibuka dan diraba. Ikat pinggang juga diperiksa bolak-balik. "Pemeriksaan ini sangat berbeda dengan saat eksekusi gelombang pertama Januari lalu, ya,” ujar Dimaz, salah seorang asisten pengacara.
Saya yang dikira pengacara juga tak luput dari pemeriksaan itu. Untung, saya lolos. Bahkan, handphone saya bisa masuk. Kok bisa? Rupanya, petugas lupa memeriksa jaket yang saya letakkan di atas meja pemeriksaan. Padahal, di dalam jaket tersebut ada handphone-nya.
Menggunakan perahu kayu bermesin, kami lalu menyeberang ke pulau yang rimbun dengan pepohonan tersebut. Suara mesinnya memekakkan telinga. Sekitar pukul 11.00 kami menginjakkan kaki di pulau yang dipisahkan Selat Segoro Anakan itu.
Tidak lama dua mobil menjemput kami di dermaga Pulau Nusakambangan. Mobil diarahkan ke Lapas Besi, tempat dua terpidana mati Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, serta Raheem Abagje diisolasi.
Satu mobil lainnya bergerak ke Lapas Batu, tempat terpidana mati Sylvester berada. Selain Lapas Besi dan Batu, di Nusakambangan terdapat Lapas Terbuka, Narkotika, Pasir putih, Kembangkuning, dan Permisan.
Tak lama keluar dari pos penjagaan dermaga, mobil kami melewati pos polisi (pospol) Nusakambangan yang dahulu merupakan Lapas Limusbuntu. Menurut cerita sang sopir, di balik pospol itu terdapat Lapangan Tembak Tunggal Panaluan. Lapangan tersebut merupakan lokasi untuk mengeksekusi lima terpidana mati gelombang pertama 18 Januari silam.
Lapangan tersebut saat ini sedang direnovasi. Bisa jadi di tempat itu pula eksekusi gelombang kedua akan dilakukan.
TIDAK sembarang orang bisa menembus penjagaan superketat di Pulau Nusakambangan menjelang pelaksanaan eksekusi mati terhadap sepuluh terpidana kasus
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara