Menegangkan, Menembus Penjagaan Superketat Nusakambangan

Di ruangan tersebut sudah menunggu Myuran Sukumaran, Andrew Chan, dan Raheem Agbaje. Ketika kami datang, ketiganya tengah asyik mengobrol. Dengan tenang mereka menyalami para pembesuknya. ”Nice to meet you,” ujar Andrew sambil menjabat tangan saya. Raheem melakukan hal serupa.
Seorang sipir (petugas lapas) mengawal dan mengawasi kami selama pertemuan itu. Namun, lantaran keterbatasan tempat, akhirnya pertemuan Andrew dan Myuran dengan tim pengacaranya dipindah ke ruang pembinaan. ”Biar tidak sumpek,” ucap salah seorang sipir.
Sementara itu, saya ikut mendampingi pengacara Utomo Karim menemui Raheem. Dia pun menumpahkan unek-unek kepada pembelanya. Setelah sejam pertemuan, terjadi pergantian penjaga di pos yang kami tempati.
Kondisi tersebut memungkinkan kami untuk mengabadikan pertemuan langka itu. Akhirnya, handphone (HP) yang berhasil kami bawa kami keluarkan. Secepatnya kami memotret tiga kali.
Rupanya, peristiwa tersebutmenimbulkan kecurigaan petugas yang tiba-tiba masuk. HP langsung kami amankan. Namun, tidak berapa lama Raheem meminta dipotret kali terakhir. Akhirnya, dengan nekat HP kami keluarkan untuk menjepret momentum pertemuan itu. Sayang, si petugas yang berjaga di luar pos penjaga mengetahuinya. ”Bawa handphone ya?” teriaknya.
Sipir dengan pangkat lebih tinggi ikut nimbrung dan langsung meminta HP milik pengacara Raheem tersebut. Dia lalu meminta izin untuk menghapus foto-foto itu. ”Maaf, aturannya tidak boleh bawa handphone. Kami harus menghapus foto-fotonya,” tegas dia. Akhirnya, semua foto hangus di tangan sipir dan HP disimpan di loker.
Tidak berapa lama kemudian seorang petugas kembali memeriksa HP yang sudah disita itu. Dia ingin mengetahui apakah foto-foto tersebut sudah dikirim ke orang lain atau belum. ”Maaf, kalau sudah dikirim ke orang lain, tolong dihapus,” ujarnya.
Peristiwa itu membuat Kalapas Besi Yudi Suseno memanggil para pengacara. Dia menegaskan bahwa pengunjung membawa HP itu pelanggaran aturan lapas. Apalagi mengambil foto di dalamnya. ”Tolong jangan dilakukan dan bila masih ada, jangan disebarkan. Hapus,” tandasnya.
TIDAK sembarang orang bisa menembus penjagaan superketat di Pulau Nusakambangan menjelang pelaksanaan eksekusi mati terhadap sepuluh terpidana kasus
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara