Mengapa Australia Akan Melakukan Referendum Terkait Warga Aborigin?

Saat ini, setidaknya seperempat dari warga Australia yang berhak memilih mengatakan mereka akan memilih "No" atau tidak, sepertiga mengatakan masih ragu-ragu.
Sisanya mengatakan "Yes" atau ya, sehingga mereka terus melakukan kampanye dengan didukung kurang dari setengah warga populasi.
Di kalangan warga Pribumi, ada berbagai pandangan tentang 'voice' atau suara.
Pertanyaan yang diajukan oleh mereka adalah apakah ini yang benar-benar dibutuhkan?
Lidia Thrope, politisi berdarah Aborigin, mengatakan, "Apakah kita ingin menjadi badan penasehat untuk sistem kolonial?"
"Kita harus membenahi masalah ekonomi, pendidikan dan sebagainya, ini yang perlu dilakukan", ujar Warrne Mundine, aktivis pribumi
"Kami ingin Parlemen kulit hitam ... kami ingin menentukan nasib sendiri," ujar Murrieguel Coe Craigie, juru kunci Kedutaan Tenda Aborigin di depan gedung Parlemen Canberra.
Ada juga yang merasa nantinya badan ini hanya memberikan saran untuk parlemen, atau hanya sebagai simbol dan tidak memberikan perubahan nyata.
Apakah Australia perlu mengubah konstitusi untuk memastikan warga Pribumi Australia, yakni masyarakat Aborigin dan Torres Strait Island, memiliki suara berupa perwakilan di konstitusi?
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana