Mengapa Dampak Virus Corona Lebih Parah di Negara-negara Barat?

Sebagai perbandingan, Dr Gary mengatakan, meskipun Amerika Serikat berpengalaman menangani kasus Ebola dan SARS, mereka belum pernah mengalami epidemi yang serius dalam beberapa tahun terakhir.
"Amerika Serikat telah terbiasa menyaksikan kejadian yang mengerikan di luar Amerika Serikat yang tidak berpengaruh langsung, baik itu perang atau wabah," kata Dr Gary.
"Ditambah jarak Amerika yang cukup jauh sehingga [Amerika] memandang dirinya lebih baik dan tidak terjangkau masalah-masalah tersebut."
External Link: Emily Rauhala tweet: One of the most painful lessons of this crisis is the extent to which America cannot or will not identify with Chinese pain.
Laporan New York Times awal bulan ini mengungkapkan jika Presiden AS Donald Trump juga menyia-nyiakan waktu yang berharga di bulan-bulan awal terjadinya wabah, dengan berulang kali meremehkan keparahan virus ketika beberapa pejabat pemerintah mulai memberikan peringatan.
Sebagai perbandingan, Ooi Eng Eong, seorang profesor penyakit menular dari National University of Singapore, mengatakan di Singapura upaya meredam wabah diberlakukan segera, setelah kasus pertama ditemukan dan dievaluasi secara berkala.
"Ketika pertama kali ada pemberitaan sesuatu terjadi di China, perencanaan segera dibuat, sehingga jika kasus yang sama menimpa Singapura kami sudah tahu bagaimana meresponnya.
Pengetesan yang luas, teknologi digital dan komunikasi

Amerika Serikat, Italia, Spanyol, Perancis, dan Britania Raya telah mengambil alih posisi China dengan jumlah kasus dan angka kematian akibat virus corona tertinggi dunia
- Marwan Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Tarif Impor Baru yang Diumumkan Trump
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Donald Trump Makin Berniat Mencaplok Greenland