Mengembalikan Senyuman Dan Keberanian Korban Pasca Bencana di Indonesia

"Dengan bermain mereka jadi melupakan sejenak kejadian yang mereka alami. Membuat mereka tertawa itu penting karena mereka bisa melepaskan emosi," sebutnya.
Berbeda dengan korban dewasa, korban anak lebih terbuka, kata Liza.
"Kalau orang dewasa seringkali bilang, saya nggak apa-apa, saya kuat, tapi setelah dikorek-korek..bum..baru keluar semua..nangis sejadi-jadinya," tutur psikolog yang juga sempat bertugas di gempa Lombok dan tsunami Aceh ini.
Liza mengharapkan lebih banyaknya kehadiran psikolog di lokasi bencana. Trauma yang dialami korban acapkali tak kentara namun bisa berbuntut panjang dan berdampak serius jika tak ditangani.
"Sepengetahuan saya, jarang sekali ada relawan psikolog yang datang. Kemarin saya keliling, korban juga bilang mereka baru ketemu saya ini," katanya.
Achmad Yurianto, Kepala Pusat Krisis Kesehatan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), mengatakan, pemerintah sebenarnya sudah menerjunkan tim kesehatan jiwa ke lokasi bencana seminggu pasca gempa, walau semua relawan kesehatan selalu diminta untuk berperan serta dalam penyembuhan trauma korban.

Di Palu, Kemenkes menurunkan 3 tim di 2 kabupaten dan 1 kota di mana satu tim-nya berisi 5 orang. Tim inilah yang menangani trauma healing dan hal-hal yang bersifat psikologis lainnya.
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana