Mengenal Tradisi Unik Kacang Jodoh Wakatobi di Bulan Ramadan

Dalam tradisi ini, sekelompok gadis menjual kacang di depan rumah mereka yang berada di pinggir jalan, atau tempat-tempat yang dianggap strategis untuk didatangi para pembeli.
Para pembeli kebanyakan laki-laki lajang yang datang dari desa sebelah, seperti Desa Wandoka, Waetuno, Sombu, Waha, Tindo, dan Patuno.
Uniknya lagi, momen ini hanya bisa dijumpai pada saat bulan suci Ramadan.
Transaksi Kacang Jodoh dilakukan setelah selesai salat tarawih sekitar pukul 20.00 WITA.
Pada saat menjajakan atau berjualan kacang di depan rumah, biasanya para gadis ini hanya menggunakan meja kecil yang diterangi beberapa buah lilin, kemudian duduk manis menunggu.
Tak lama, mereka akan didatangi para pembeli dari berbagai penjuru desa yang didominasi kaum pria.
Fakta dan Mitos Tradisi Kacang Jodoh
Seorang laki-laki lajang
Sebenarnya Kacang Jodoh bukan seperti namanya bahwa tradisi tersebut diperuntukkan benar-benar untuk mencari jodoh, meskipun konon ada yang mendapatkan jodoh karena tradisi ini.
Selain kekayaan alamnya, Wakatobi juga memiliki tradisi unik, yaitu Kacang Jodoh yang berlangsung pada setiap Ramadan. Seperti apakah tradisi Kacang Jodoh ini?
- ISACA Indonesia Lantik Pengurus Baru 2025-2027 di Annual General Meeting 2025
- Sandiaga Uno: Istikamah Jadi Kunci OK OCE Memperluas Bisnis dan Lapangan Kerja
- Kemeriahan Ramadan di PIK: Ada Festival Kuliner, Seni, & Animasi
- Sandiaga Uno: SI IKLAS jadi Awal Kebangkitan Ekonomi
- Sandiaga Uno Dorong Bali menjadi Pusat Wisata Medis
- 60 Looks Dihadirkan di Heaven Lights Annual Show 2025, Elegan & Bermakna