Mengintip Geliat Prostitusi di Bogor Jelang Lebaran
Ada PSK Spesial Ramadan, Panti Sosial Jadi Kendala
Selasa, 16 Agustus 2011 – 08:08 WIB
Menurut Dhea, pekerjaan tersebut sudah ia lakoni sejak lulus SMA pada 2005 lalu. Dengan bekerja sebagai PSK, dia mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya selama merantau ke Jakarta. Bahkan, Dhea juga mampu menyewa kamar kost dengan fasilitas mewah bertarif Rp2,5 juta per bulan.
"Saya ke Jakarta pas lulus SMA, awalnya ditawari kerja sebagai pelayan kafe, kemudian saya malah jadi pemandu lagu. Akhirnya karena ingin mengikuti kehidupan glamor Jakarta, saya terjun sebagai wanita penghibur," ujarnya sambil mengisap sebatang rokok.
Hal senada diungkapkan Shinta (bukan nama sebenarnya, red). Wanita asal Cianjur berusia 23 tahun ini menuturkan, menjadi PSK musiman merupakan kegiatan yang ia lakoni sejak dua tahun belakangan. Sebab, Shinta ingin mengimbangi gaya hidup glamor ala metropolitan Jakarta.
"Sebenarnya bukan kebutuhan ekonomi, karena orangtua saya bukan orang susah. Tapi agar saya bisa membeli barang-barang bermerek mulai dari HP hingga sepatu sendiri. Soalnya nggak mungkin kalau saya minta ke orangtua, karena mereka tahunya saya bekerja sebagai model di Jakarta," tuturnya.
Dunia prostitusi acap menyuguhkan fenomena unik. Pasalnya, saat semua PSK kawasan Puncak, Bogor, ramai-ramai pulang kampung, kupu-kupu malam musiman
BERITA TERKAIT
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara
- Rumah Musik Harry Roesli, Tempat Berkesenian Penuh Kenangan yang Akan Berpindah Tangan
- Batik Rifaiyah Batang, Karya Seni Luhur yang Kini Terancam Punah
- 28 November, Masyarakat Timor Leste Rayakan Kemerdekaan dari Penjajahan Portugis
- Eling Lan Waspada, Pameran Butet di Bali untuk Peringatkan Melik Nggendong Lali
- Grebeg Mulud Sekaten, Tradisi yang Diyakini Menambah Usia dan Menolak Bala