Mengintip Kesenjangan Luar Biasa Antara Kedua Sisi Perbatasan Israel-Gaza

Namun di lapangan, warga di Gaza mengatakan situasi tidak bisa diperkirakan dan kacau.
"Tidak ada tempat yang aman di Gaza," kata Bassam Ouda.
"Semua tempat bisa menjadi sasaran. Kami tidak tahu apakah kami akan jadi sasaran berikutnya atau tidak."
"Susah bagi mereka untuk mengerti"
Di akhir pekan, serangan udara Israel menghantam sebuah rumah tiga lantai di pinggiran kamp pengungsi Shati, di Gaza, menewaskan delapan anak-anak dan dua perempuan.
Sebuah gedung tinggi yang juga ditempati oleh kantor media Al Jazeera dan Associated Press juga hancur dalam serangan terpisah.
Militer Israel mengatakan kedua lokasi tersebut menjadi sasaran karena diduga pejabat Hamas berada di sana tetapi tidak memberikan bukti apapun untuk memperkuat dugaan mereka.
Bisan Shrafi seorang perempuan Palestina lainnya di Gaza City sudah mempersiapkan koper berisi dokumen penting dan juga pakaian untuk keluarganya termasuk kedua anaknya yang berusia tiga dan tujuh tahun, sehingga mereka bisa mengungsi sewaktu-waktu.
Bisan Shrafi tinggal di sebuah blok apartemen tidak jauh dari beberapa gedung tempat pemerintah berkantor.
Hanya sekitar 20 km jarak yang memisahkan Gaza City dengan kota perbatasan Askhelon di Israel bagian selatan, tetapi dampak dari konflik Israel Palestina sangat berbeda di kedua sisi perbatasan
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Peringati Hari Al Quds Sedunia, Ribuan Massa Padati Gedung Grahadi Surabaya