Menimbang Belt and Road Initiative: Proyek Progresif atau Beban Ekonomi?
Oleh Putri Rakhmadhani Nur Rimbawati*

Melalui pemahaman yang lebih baik tentang manfaat dan risiko dari pengalaman negara lain, Indonesia dapat lebih siap menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dari proyek-proyek BRI.
Sudah sepatutnya masyarakat Indonesia tidak hanya menerima narasi yang populer, tetapi juga untuk melihat lebih dalam dengan memanfaatkan data empiris dan analisis yang teliti, berpikir lebih kritis dan lebih nyaring dalam memahami dinamika global yang melibatkan salah satu inisiatif pembangunan infrastruktur terbesar di dunia saat ini.
buku itu menjadi bacaan cerdas bagi politisi, pembuat kebijakan, akademisi, dan mengajak siapa saja yang peduli dengan masa depan pembangunan Indonesia dalam konteks global yang semakin terhubung.
Dengan kekayaan data dan analisis yang disajikan, buku itu membantu meluruskan beberapa miskonsepsi dan menyediakan landasan yang lebih baik untuk diskusi yang konstruktif di masa depan.(***)
*Penulis adalah research fellow di ASEAN Studies Center, Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus praktisi media dan komunikasi
Ketika Belt and Road Initiative atau BRI yang diinisiasi oleh Tiongkok menjadi sorotan global, banyak perdebatan dan kontroversi mengenai dampak sebenarnya.
Redaktur & Reporter : Friederich Batari
- Kaya Susah
- Media Asing Sorot Danantara, Dinilai Serius soal Profesionalitas
- Kemudahan Akses Pendanaan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif Sedang Dibahas Pemerintah
- Semarak Ramadan, Pelindo Solusi Logistik Berbagi Ribuan Sembako dan Santunan
- Gubernur Herman Deru Minta Pembangunan Infrastruktur Jadi Prioritas
- Nasabah Unggulan PNM Raih Omzet Tiga Kali Lipat saat Ramadan