Menu Paling Mewah Ikan Sarden
Ditulis Oleh Wartawan Kaltim Pos Thomas D Priyandoko
Senin, 14 September 2009 – 07:37 WIB

Para korban gempa di Kampung Babakan Ranca, Desa Tarumaju, Kertasari, Kabupaten Bandung, saat berkumpul Sabtu (12/9) lalu. Foto: Istimewa.
Bambang membantah kalau menu tidak pernah berubah. "Kalau lagi ada berubah juga. Kadang pakai mie instan. Kadang pula, pakai abon," ujarnya. Tentu saja, tidak mudah untuk menyediakan makanan bagi 656 orang saban harinya. Apalagi jika harus menyediakan menu yang aneh-aneh. "Dalam situasi begini, menu paling mewah ya ikan sarden," ujarnya.
Untuk menyiapkan menu yang sederhana ini, menurut Bambang, dibutuhkn waktu antara 6 sampai 7 jam. Waktu lama, dibutuhkan untuk menanak nasi. "Jadi, kami ini praktis tidak pernah istirahat. Bayangkan saja, tujuh jam kami memasak untuk kebutuhan sahur. Kemudian, waktu yang sama untuk menyiapkan berbuka puasa," ujarnya. Meski begitu, Bambang mengaku ikhlas melakuan semua pekerjaan ini. "Ya, hanya dengan cara begini kami bisa membantu saudara-saudara yang sedang terkena musibah," katanya.
Masalah pengungsi tentu bukan hanya tempat tinggal dan makanan. Masalah air bersih pun selalu menjadi persoalan serius. Begitu pula bagi pengungsi yang ada di dusun Babakan Ranca ini. Persediaan air bersih masih belum seperti yang mereka harapkan. Sekalipun, Direktur PDAM Tirta Raharja Pudjidarto pernah menyatakan dalam menanggulangi permasalahan gempa menyediakan diPangalengan dan Kertasari menyediakan 5 unit hidra umum dengan kapasitas 2 liter per detik, instalasi pengolahan air (IPA) umum dengan kapasitas 0,5 liter per detik dan satu tangki air mobile.
Namun, hingga kemarin air itu belum mengucur seperti yang dijanjikan."Kebutuhan air bersih sangat penting yang dibutuhkan pengungsi, kami ingin membangun saluran air dari Gunung Wayang sepanjang 5 kilometer atau dari Situ Cisanti," terang anggota taruna tanggap bencana (Tagana) saat di pengungsian.
Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah melakukan buka puasa bersama dengan pengungsi korban gempa bumi di desa Babakan Ranca, Bandung Selatan, Jawa Barat.
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara