Merasakan Fenomena Obama di Jantung Amerika (1)
Monumen Tanda Tangan Jadi Penanda Kemenangan
Selasa, 11 November 2008 – 10:25 WIB

Foto :DOAN WIDHIANDONO /JAWA POS
Kalimat di atas adalah dua di antara ratusan atau bahkan ribuan ungkapan yang tertulis pada lima papan tripleks di depan Lincoln Memorial, tempat mengenang presiden ke-16 AS, Abraham Lincoln. Sejak 4 November, papan-papan itu telah dipasang di depan bangunan yang terletak segaris dengan gedung Capitol, Washington Monument, dan World War II Memorial tersebut.
Pada papan terbesar, yang tepat menghadap Lincoln Memorial ada tulisan besar, Congratulations President Obama, Change Won't be Very Easy, but... Together as One World, Yes We Can.
Aliran orang mulai membubuhkan tulisan di papan itu setelah proses pemilihan umum selesai. Tulisan itu kian bertambah setelah Obama resmi dinyatakan memenangi pemilu tersebut. Dan pada 5 November, sehari setelah pemilu, papan tripleks itu seakan menjadi objek wisata baru di kawasan Lincoln Memorial. Turis asing maupun warga sekitar menyempatkan antre mendekat, berdesakan, untuk menuliskan ungkapan mereka atas terpilihnya Barack Obama sebagai presiden ke-44 AS.
Sebagian ungkapan itu pendek-pendek, sekadar ungkapan selamat. Namun, ada pula yang begitu panjang hingga menyerupai puisi. Ada ungkapan yang hanya diteken, ada juga yang ditempeli foto. Ada yang ditulis tangan, banyak pula yang di-print lantas ditempel.
TERpILIHYA Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat (AS) bukan proses politik biasa. Pemilihan umum itu menghasilkan pemenuhan mimpi. Mimpi
BERITA TERKAIT
- Inilah Rangkaian Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Semarak Prosesi Paskah Semana Santa di Kota Reinha Rosari, Larantuka
- Sang Puspa Dunia Hiburan, Diusir saat Demam Malaria, Senantiasa Dekat Penguasa Istana
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri