Catatan Ketua MPR RI
Merespons Eskalasi Ketegangan di Laut China Selatan: Tak Ada Pilihan Lain Bagi ASEAN!

Sebagaimana telah dipublikasikan oleh pers, aktivitas militer di Laut China Selatan sering diwarnai dengan manuver-manuver yang cukup berbahaya antara militer AS dan sekutunya dengan militer Tiongkok.
Ketidakmampuan mengendalikan diri atau salah pengertian di antara dua kekuatan yang berseberangan itu bisa menyulut perang.
Sejauh ini, belum ada upaya sungguh-sungguh dari semua pihak untuk membawa persoalan klaim Laut China Selatan ke meja perundingan.
Tiongkok menolak mematuhi keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional tahun 2016 yang menyatakan Beijing itu tidak punya dasar hukum untuk mengklaim wilayah perairan itu.
Dengan luas 3,685 juta kilometer persegi, Laut China Selatan berbatasan dengan Tiongkok, Taiwan, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Vietnam.
Klaim Tiongkok atas Laut China Selatan dengan sembilan garis putus-putus itu sejatinya juga menggangu kepentingan Indonesia di Laut Natuna Utara, meliputi kepentingan pertahanan dan kepentingan ekonomi.
Mau tak mau, eskalasi ketegangan di Laut China Selatan pun akan menghadirkan masalah bagi Indonesia.
Dalam Keputusan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 7/2016, disebutkan bahwa Laut Natuna kaya sumber daya laut dengan beragam jenis ikan dan biota laut.
ASEAN harus mengerahkan kekuatan militernya mengantisipasi dan menyusun beragam strategi yang diperlukan untuk merespons situasi terburuk di Laut China Selatan
- Menko Airlangga Bertemu PM Anwar Ibrahim, Bahas Strategi Menghadapi Tarif Resiprokal AS
- 3 Juta Lulusan SMA/SMK Menganggur, Waka MPR: Berbagai Langkah Harus Segera Diambil
- HNW Usulkan ke Prabowo Terbitkan Keppres yang Tetapkan 3 April sebagai Hari NKRI
- Renovasi Rumah
- Kebakaran Menghanguskan 18 Rumah Dinas TNI di Aceh
- Danantara dan Komitmen Presiden Bagi Hilirisasi SDA-Tanaman Pangan