Meski Orangnya Sudah Berada di Australia, Ribuan Visa Pencari Suaka Belum Diproses

Wawancara jadi penentu
Zaki Haidari, mantan pencari suaka yang masuk kategori Tunggakan Kasus IMA, menjalani proses aplikasi visa pada tahun 2016.
Dia masih ingat wawancaranya dengan seorang pejabat pemerintah sebagai pengalaman yang menakutkan.
"Saya tidak bisa tidur pada malam sebelumnya," ujarnya.
"Itu adalah hari yang saya tunggu-tunggu selama lebih dari tiga tahun," kata Zaki.
Dalam pikiran Haidari, wawancaranya saat itu merupakan masalah hidup atau mati.
"Saya akan dinilai berdasarkan wawancara selama tiga jam tersebut. Apakah saya bisa tinggal di Australia, apakah saya akan mendapatkan status pengungsi atau akankah permohonan saya ditolak. Apakah saya akan dideportasi kembali ke Afghanistan," tutur Zaki.
Menurut dia, bagi sejumlah pencari suaka, wawancara itu juga membuka kembali peristiwa traumatis yang sebenarnya ingin dilupakan.
Melalui wawancara tersebut, kata Zaki, pencari suaka akan dipaksa mengingat kembali seluruh peristiwa traumatis yang mereka alami sebelum tiba di Australia.
Kantor bantuan hukum keimigrasian di Australia saat ini sedang kebanjiran permintaan dari pencari suaka yang sudah berada di Australia
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana