Mungkinkah Darah Pasien Sembuh Jadi Obat Pembunuh Virus Corona?

Ketika seseorang terinfeksi oleh kuman tertentu, tubuh mulai membuat protein yang dirancang sebagai antibodi untuk melawan infeksi. Setelah orang tersebut pulih, antibodi-antibodi itu mengapung dalam darah - khususnya di plasma, bagian cair dari darah - selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Namun patut dicatat bahwa ini tidak seperti vaksin, dan hanya bersifat sementara.
Vaksin sendiri melatih sistem kekebalan tubuh manusia untuk membuat antibodi melawan kuman tertentu. Pendekatan infus plasma akan memberi orang suntikan sementara antibodi orang lain dalam jangka pendek dan membutuhkan dosis berulang.
Faktor yang menguntungkan dari terapi antibodi ini yaitu darahnya bias tersedia segera dari mereka yang sudah sembuh, sementara obat dan vaksin membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Mentransfusikan darah dengan cara ini tampaknya relatif aman, asalkan disaring untuk virus dan agen infeksi lainnya.
Dirangkum dari berbagai sumber termasuk Jurnal Nature.
Upaya menyembuhkan pasien yang terjangkit virus corona terus dilakukan kalangan medis di berbagai negara
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang