Myanmar Berjanji Hukum Tentara Pembantai Rohingya

’’Mereka adalah bagian dari 200 teroris yang menyerang pasukan keamanan di Rakhine.’’ Demikian keterangan resmi militer Myanmar sebagaimana dikutip CNN.
Lebih lanjut, militer mengakui keterlibatan sejumlah penduduk Buddha di Rakhine dalam pembunuhan 10 pria Rohingya tersebut. Mereka bekerja sama dengan beberapa serdadu Myanmar serta beberapa polisi untuk menghabisi 10 pria Rohingya itu.
Namun, militer cuci tangan. Dalam keterangannya, militer seolah-olah tidak mengetahui ulah para personelnya.
Keterangan itu bertentangan dengan paparan sejumlah saksi yang ditemui Reuters. Salah satunya Soe Chay. Pria 55 tahun yang merupakan pensiunan personel militer itu menegaskan bahwa semua ulah serdadu Myanmar tersebut atas perintah atasan.
’’Saya membunuh satu pria Rohingya. Pasukan keamanan menemukan dia bersembunyi dengan tiga orang lainnya dan membawa pria itu kepada saya. Mereka berkata, ’Perbuatlah sesuka hatimu’,’’ ujar penduduk Inn Din tersebut.
Saat itu Soe Chay langsung mengayunkan pedangnya ke arah pria Rohingya tersebut. Ketika pria itu ambruk, seorang serdadu menembaknya hingga tewas.
Selain ikut membunuh, Soe Chay bertugas sebagai penggali kuburan. Termasuk saat militer hendak menguburkan 10 korban kejahatan mereka pada 2 September lalu.
Soe Chay-lah yang menggali kuburan masal untuk mereka. Dia melakukannya bersama seorang teman.
Pemerintah Myanmar akhirnya mengakui pembantaian oleh militer mereka terhadap etnis Rohingya di Inn Din, Rakhine
- Gempa Bumi Kembali Terjadi di Myanmar Hari Ini
- Korban Tewas Gempa Myanmar Mencapai 2.700 Orang, BNPB Beri Info soal WNI
- Prabowo Bakal Lepas Misi Kemanusiaan ke Myanmar 3 April
- Indonesia Berangkatkan Pasukan Misi Kemanusiaan Gempa ke Myanmar
- TNI AL Siapkan Pasukan dan Alutsista untuk Operasi Kemanusiaan Korban Gempa Bumi di Myanmar
- Info Terbaru Gempa Myanmar, Jumlah Korban dan yang Hilang