Ny Sinta Merasa Suaminya Hanya Pergi ke Luar Kota
Minggu, 03 Januari 2010 – 05:28 WIB

TAMU - Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, saat menerima Douglas Ramage, Governance Specialist World Bank, di Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (2/1). Foto: Dian Wahyudi/Jawa Pos.
Bagi yang baru pertama datang ke Ciganjur, banyak orang yang tidak akan mengira komplek perumahan itu adalah tempat tinggal mantan orang nomor satu di Indonesia. Rumah Gus Dur berada di tengah kawasan rumah penduduk biasa. Umumnya lokasi pondok-pondok pesantren yang juga berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat.
Dilihat dari luar, kawasan pondok yang khusus menampung sejumlah mahasiswa itu tidak seperti sebuah pesantren. Bangunan-bangunannya tak berbeda jauh dari rumah-rumah warga. Selain itu, tidak ada plakat khusus bertulisan nama pondok.
Satu-satunya penanda hanyalah sebuah bangunan masjid sederhana. Luasnya sekitar 100 meter persegi. Di belakang masjid itulah kediaman Gus Dur berada. Sejak Gus Dur menjadi presiden, rumah induk tersebut telah direnovasi total dari awalnya yang sangat sederhana.
Sejak masuk ke Jakarta sekitar 1979, Gus Dur sebenarnya sudah bertekad membangun sebuah pondok modern, layaknya Pondok Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Namun, karena kesibukan yang luar biasa hingga meninggal, cita-cita itu belum terealisasi. "Gus Dur sering berkata kepada warga ingin membangun pesantren seperti Gontor, menjadi tempat belajar santri-santri terbaik seluruh Indonesia," kata Ujang, tetangga Gus Dur.
Hingga kemarin, para tamu yang bertakziah ke kediaman Gus Dur di Ciganjur terus berdatangan. Sang istri, Ny Sinta Nuriyah, mengaku masih belum terbiasa
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara