Pagar Danau

Oleh: Dahlan Iskan

Pagar Danau
Dahlan Iskan. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

Mulai berlakunya tarif baru itu pun tidak mungkin dimundurkan: tanggal 3 April 2025, pukul 00.00 -delapan jam setelah pidatonya dari Oval office di Gedung Putih.

Baca Juga:

Bukan berarti tempe di tangan Trump tidak bisa jadi kedelai. Sebagian sudah jadi kedelai duluan. Misalnya di bidang otomotif. Yang berlaku pukul 00.00 nanti itu ternyata yang dalam bentuk mobil jadi. Kalau spare part dan mesin mobilnya baru akan berlaku tanggal 3 Mei bulan depan.

Carney kelihatannya tidak seemosional Trump. Banker selalu punya sikap matang dan hati-hati. Ia tidak akan langsung tit for tat. Akan ada barang dari Amerika yang tidak langsung dikenakan balasan tarif masuk 25 persen. Ia akan jaga harga-harga di Kanada agar tidak naik –ingat, akhir bulan ini ada Pemilu.

Carney juga tidak emosional saat pendukungnya meneriakkan yel-yel ''kita jadikan saja Amerika sebagai negara bagian ke-11 Kanada''. Yel-yel itu sebagai reaksi atas keinginan Trump menjadikan Kanada sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.

Amerika lebih emosional. Mungkin merasa sudah tertipu selama 40 tahun lebih. Pekan lalu seharusnya ada pertemuan rutin Amerika-Kanada. Yang dibahas: pengelolaan bersama tiga danau besar di sana.

Anda sudah tahu nama tiga danau itu. Itulah danau yang berisi air tawar terbesar di dunia. Misalkan pun terjadi krisis air tawar sejagat, Amerika-Kanada tidak akan mengalaminya.

Karena itu Amerika-Kanada bertekad menjaga tiga danau itu secara bersama. Tapi di pertemuan pekan lalu dua wali kota Kanada yang terkait dengan danau itu tidak diundang. Alasannya: protokol Gedung Putih tidak mengizinkan mereka diundang.

Jangan-jangan Trump akan bikin pagar di tengah danau. Agar air dan ikan milik Amerika tidak lari ke wilayah danau Kanada. Atau pagar danau itu dibuat sedemikian rupa menyisakan hanya sedikit air untuk Kanada -sampai negara itu mau jadi negara bagian ke-51 Amerika.

Tidak sampai satu bulan Mark Carney jadi perdana menteri Kanada, ia menghadapi krisis tarif dengan Amerika Serikat.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News