Pakar Bahas Dampak Soft Power Tiongkok dalam Pendidikan dan Budaya di Indonesia

Masih menurut Prof Suryadinata, alih-alih menggunakan kekuatan, soft power justru diterapkan dengan menggunakan atraksi membujuk negara-negara untuk memberikan kehormatan dan penghargaan terhadap RRT, sehingga membuat negara lain bersedia berbuat sesuatu yang diinginkan.
Ketua FSI, Dr. Johanes Herlijanto, juga menyoroti potensi soft power Tiongkok yang menjangkau berbagai bidang, termasuk media dan pendidikan, sebagai alat untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia.
“Meski menghadirkan peluang, pemerintah Indonesia perlu memaksimalkan manfaat soft power ini sekaligus mengembangkan strategi untuk menghindari potensi propaganda,” ujar Johanes.
Menurutnya, kehadiran soft power Tiongkok perlu direspons secara bijaksana agar tetap menguntungkan Indonesia.
Di sisi lain, Prof. Edwin Tambunan, dekan FISIP UPH, mengungkapkan bahwa perhatian terhadap soft power RRT menghadirkan perspektif baru dalam memahami kekuatan Tiongkok di luar aspek militer dan ekonomi.
“Kehadiran Tiongkok di dunia tidak lagi hanya melalui kekuatan keras, namun juga dengan pendekatan budaya dan pendidikan,” ungkapnya.
Menurutnya, memahami soft power Tiongkok memberi pandangan yang lebih luas tentang bagaimana negara tersebut membangun pengaruh globalnya. (jlo/jpnn)
Pakar membahas dampak soft power Tiongkok, dalam pendidikan dan budaya populer di Indonesia.
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh
- Bahlil, Kawulo, Santri, dan Cita-Cita Republik
- Legislator Minta Kemenbud Beri Solusi terkait Pemecatan Pegawai Penggiat Budaya
- Berdialog dengan Fadli Zon, Putu Rudana: Seni Budaya Harus Jadi Mercusuar Bernegara
- Meiline Tenardi: Cap Go Meh 2025 Menghidupkan Nilai Budaya & Harmoni Keberagaman
- KIKT Dukung Pelestarian Warisan Budaya
- Waka MPR Dorong Keterlibatan Aktif Masyarakat dalam Pengembangan Kawasan Cagar Budaya