Pakar Sebut Pergantian Ketum Golkar Seperti Fenomena Blitzkrieg

jpnn.com, JAKARTA - Pakar dari Universitas Pertahanan (Unhan) Dina Hidayana melihat ada fenomena serangan kilat atau blitzkrieg dalam proses pergantian ketua umum di Partai Golkar.
Dina mengatakan yang terjadi di Partai Golkar adalah fenomena blitzkrieg, yakni strategi atau taktik menyerang dan menguasai yang dilakukan secara individu maupun kolektif.
"Serangan bersifat mendadak atau kilat, dan fokus ke tempat sasaran. Sehingga lawan tidak sempat bersiap untuk melakukan pertahanan diri ataupun perlawanan. Hasilnya pun berujung kekalahan," ujar Dina dalam keterangannya, Minggu (25/8).
Lebih lanjut pengajar dan alumnus Doktoral Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan) itu menjelaskan taktik atau strategi ini pun sering berlaku di dunia politik.
Karena itu, lanjut Dina, tidak mengherankan peristiwa pergantian kepemimpinan bersifat tidak terduga. Pelibatan kombinasi kekuatan darat, laut dan udara mutlak diperlukan untuk memastikan keberhasilan dari serangan kilat ini.
"Karena tanpa persiapan sistematis dan kontrol penuh maka bak politik bunuh diri bagi sang panglima dan pasukannya," ungkapnya.
Dina menuturkan, Golkar saat ini sedang menghadapi fase pasca serangan kilat. Reintegrasi relatif tidak mudah, karena sempat melewati efek kejut akibat blitzkrieg ini.
Apalagi di tambah isu ada permainan penguasa, termasuk kubu Munas Ancol versus Bali.
Pakar pertahanan Unhan Dina Hidayana menyoroti pergantian Ketum Golkar dari Airlangga ke Bahlil Lahadalia yang seperti fenomena blitzkrieg, ini penjelasannya
- Ahmad Andi Bahri Mundur dari Jabatan Sekjen DPP AMPI Setelah Pemulihan Nama Baiknya
- Menteri ESDM: Mudik 2025 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
- Sinyal Jokowi Gabung PSI Makin Kuat, Golkar: Pasti Ada Hitungan Politik
- Prabowo Minta Struktur Komisaris BUMN Dirampingkan, Diisi Profesional
- Menteri ESDM Apresiasi Kesiapan Satgas Ramadan Idulfitri Pertamina 2025
- Hadiri Buka Puasa Bersama PM Kamboja, Ketum PP AMPG Sampaikan Salam dari Presiden Prabowo & Ketum Golkar Bahlil