Pandai Mainkan Emosi, Sukses Belah Oposisi
Minggu, 01 Mei 2011 – 01:19 WIB
Lewat pidato tersebut, presiden ke-44 AS itu secara tidak langsung minta Saleh menghormati oposisi. Dengan kata lain, membiarkan unjuk rasa damai aktivis prodemokrasi di Yaman. Tapi, Saleh mengabaikan imbauan sekutunya dan memilih bertahan di kursi presiden.
Tahun sebelumnya, bantuan AS ke Yaman bahkan lebih banyak. Tidak hanya helikopter dan pesawat ringan, tetapi senapan otomatis ukuran kecil, amunisi, kendaraan militer, truk logistik, radio, dan kamera pengintai. Juga komputer, kapal patroli, dan suku cadang helikopter. Awalnya, peralatan dan perlengkapan militer itu dimaksudkan untuk menumpas Al Qaidah.
Di sisi lain, aktivis HAM Yaman Tawakul Karman menilai AS tak sungguh-sungguh meminta Saleh lengser. Pasalnya, gerakan anti pemerintah yang muncul di Yaman setelah Revolusi Melati di Tunisia dan Revolusi Tahrir di Mesir melemahkan posisi AS di Timur Tengah. Menurut aktivis HAM sekaligus tokoh oposisi Yaman itu, AS tak ingin isiko kehilangan mitra esensialnya di Timur Tengah untuk kali ketiga.
"Saya rasa kita semua telah dikhianati. Lambat laun, kami kehilangan kepercayaan kepada AS," papar Karman. Padahal, menurut dia, AS jauh lebih digdaya ketimbang negara-negara Barat lain untuk memaksa Saleh lengser. (berbagai sumber/hep/dwi)
SANAA - Di mata para analis politik, semakin hari Presiden Ali Abdullah Saleh kian pandai mempermainkan emosi rakyat di Yaman. Terutama, kelompok
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
BERITA TERKAIT
- Pengelolaan Perbatasan RI-PNG Jadi Sorotan Utama di Sidang ke 38 JBC
- Bertemu PM Pakistan, Prabowo Bahas Peningkatan Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan
- 13 Orang Tewas dalam Kecelakaan Kapal di India Bagian Barat
- Demi Perdamaian, Negara Tetangga Minta Ukraina Ikhlaskan Wilayahnya Dicaplok Rusia
- Bertemu Paus Fransiskus, Arsjad Rasjid Bawa Misi Kemanusiaan
- Beginilah Cara Iran Merekrut Warga Israel Jadi Mata-Matanya