Pandemi Membuat Orang Australia Makin Religius atau Malah Meninggalkan Agamanya

Ia mengatakan bahwa mereka sering kali “terlihat seperti orang aneh” di dalam lingkungan jemaat lainnya.
Dia juga tidak menerima kurangnya perempuan dalam kepemimpinan gereja.
"Gereja Anglikan di Sydney menolak pentahbisan perempuan sebagai pendeta dan uskup, yang menurut saya bersifat misoginis, terbelakang, dan jelas-jelas tidak bersifat Kristen," ujarnya.
"Hal itu membuat saya sampai di titik mempertimbangkan untuk tidak lagi mengidentifikasi diri dengan apa pun dan menyerah atau memutuskan hubungan dengan agama Kristen," katanya.
Saat ini dia tidak lagi menggambarkan dirinya sebagai penganut agama Kristen, namun mengatakan ada sesuatu yang “lebih besar dari kita” di luar sana.
Lebih memikirkan Tuhan, bukan agama
Satara adalah salah satu dari banyak warga Australia yang dalam satu dekade terakhir memutuskan untuk tidak menyebut diri mereka sebagai penganut agama Kristen.
Menurut Biro Statistik Australia (ABS) pada tahun 2021 jumlah penduduk yang mengaku beragama Kristen turun di bawah 50 persen, yakni menjadi 43,9 persen, untuk pertama kalinya.
Pada tahun 2016, angkanya masih 52 persen.
Pandemi COVID-19 mengubah relasi sejumlah warga Australia dengan agama mereka. Ada yang meninggalkan agamanya, ada pula yang justru semakin religius
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi