Pandemi Membuat Orang Australia Makin Religius atau Malah Meninggalkan Agamanya

Di tengah-tengah pandemi, dia akan merasa cemas bepergian ke tempat kerja karena tingkat infeksi yang tinggi. Hal itu berdampak buruk pada kesehatan mentalnya.
Alana akhirnya memutuskan untuk mencoba bermeditasi dan berlatih yoga secara online. Dan berhasil.
Dia mengaku hal ini bukan hanya membantunya mengelola kesehatannya, tetapi juga mengarahkannya ke arah baru: sebuah "perjalanan spiritual".
"Saya menyerahkan hidupku kepada Yang Mahakuasa. Ego saya tidak lagi memegang kendali," katanya.
Sejak memulai perjalanannya itu, Alana sampai pada kesimpulan baru bahwa "ada kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang lebih tinggi".
"Mungkin orang menyebutnya Tuhan, atau menyebutnya kesadaran kesatuan. Itu adalah kekuatan ilahi yang mengekspresikan dirinya di alam semesta dan kita hanyalah kendaraan dari ekspresi itu," tuturnya.
Refleksi spiritual
Bagi penyair dan penulis Mesir-Amerika, Yahia Lababidi, pandemi telah memberikan waktu untuk merenungkan agamanya, Islam.
Pada masa-masa awal COVID, ia menghibur diri dengan membaca Al-Quran dan memperdalam pemahamannya tentang pentingnya pandemi ini.
Pandemi COVID-19 mengubah relasi sejumlah warga Australia dengan agama mereka. Ada yang meninggalkan agamanya, ada pula yang justru semakin religius
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana