Pandemi Membuat Orang Australia Makin Religius atau Malah Meninggalkan Agamanya

"Peristiwa itu membantu saya menerima takdir. Yang bisa saya lakukan hanyalah berada dalam keadaan menerimanya," kata Yahia kepada ABC.
Dia mengaku melakukan perenungan dan melihat seolah-olah umat manusia telah mencapai akhir zaman.
"Saya mendapati diri berpura-pura seolah-olah kiamat sudah dekat," katanya.
Yahia percaya bahwa pengalaman awal pandemi membuat semua orang berada dalam keadaan batin dan kontemplasi kolektif, sekaligus menguji mereka melalui ketakutan akan kehilangan orang yang dicintai.
Ia mengatakan mungkin banyak orang harus mempelajari cara hidup yang baru, seperti dilahirkan kembali, dan harus memulainya dari awal.
Dan dengan awal yang baru seperti itu, muncullah peluang baru.
"Tak ada waktu yang lebih baik untuk membereskan urusanmu, merawat jiwamu serta menjaga hubunganmu dengan sang pencipta," ujar Yahia Lababidi.
Diproduksi oleh Farid Ibrahim dari artikel ABC News.
Pandemi COVID-19 mengubah relasi sejumlah warga Australia dengan agama mereka. Ada yang meninggalkan agamanya, ada pula yang justru semakin religius
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif
- Dunia Hari Ini: Gempa Bumi Berkekuatan 6,2SR Mengguncang Turkiye, 150 Warga Luka-luka
- Tentang Hari Anzac, Peringatan Perjuangan Pasukan Militer Australia
- Dunia Hari Ini: Vatikan Umumkan Tanggal Pemakaman Paus
- 'Nangis Senangis-nangisnya': Pengalaman Bernyanyi di Depan Paus Fransiskus
- Perjalanan Jorge Mario Bergoglio Menjadi Paus Fransiskus
- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun