Pasangan Sesama Jenis di Taiwan Harus Bayar Miliaran untuk Punya Anak

Pada Agustus tahun lalu, kementerian tersebut mengatakan pihaknya terus berkonsultasi dengan para ahli tentang rancangan undang-undang untuk mengubah Undang-Undang Reproduksi Berbantuan.
"Semua lapisan masyarakat memiliki pendapat positif dan negatif tentang reproduksi buatan dan masalah sewa rahim, sehingga sulit untuk mencapai konsensus," katanya.
Li dari Advokasi Hak Keluarga LGBT Taiwan mengatakan bahwa LSM tersebut telah bekerja sama dengan pemerintah menyusun proposal penelitian untuk amandemen Undang-Undang Reproduksi Berbantuan.
Amandemen RUU adopsi non-biologis yang diusulkan dalam Legislatif Yuan oleh LSM bekerja sama dengan legislator telah melalui tahap pembacaan pertama pada Desember 2020.
Tzung-Han mengatakan penambahan pasangan sesama jenis dalam Undang-Undang Reproduksi Berbantuan akan menguntungkan orang-orang seperti dia karena berarti bisa memiliki anak dari negaranya sendiri.
"Keluarga LGBT secara inheren berbeda dengan keluarga lain, tapi inti ingin punya anak dan bisa mencintai anak itu sama," katanya.
Tzung-Han masih tidak percaya sebentar lagi dirinya akan menjadi ayah.
"Ketika anak itu lahir, kami akan terbang ke AS untuk menjemput anak itu. Saya berencana untuk membawa ibu saya dan menjalani proses ini bersama-sama," katanya.
Pasangan sesama jenis di Taiwan harus mengeluarkan biaya miliaran untuk bisa punya anak
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana