Pasca Eksekusi, Investor Khawatir akan Kemampuan Jokowi Lanjutkan Reformasi
"Minggu itu adalah titik balik. Realitasnya menurut saya, investor memiliki harapan besar sebelum musim pendapatan perusahaan dan itu telah mempertahankan indeks,” jelas kepala penelitian ‘DBS Vickers Securities’, Maynard Arif.
Maynard mengatakan, pekan lalu adalah satu minggu di mana para investor ‘menjadi lebih gugup dan melihatnya sebagai sebuah tanda untuk memangkas posisi mereka’.
Investor tak yakin Jokowi miliki dukungan politik untuk lanjutkan reformasi
Indonesia menghadapi pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari lima tahun terakhir, dan prediksi yang ada sekarang bergerak menuju pertumbuhan kurang dari 5%.
"Ada derajat kekhawatiran konsumen yang cukup besar di luar sana dan kita melihatnya dalam angka," sebut Ross.
Maynard mengatakan, investor asing telah menyadari bahwa situasinya tak ‘semerah’ awal tahun.
Para investor mencari sejumlah tanda bahwa Presiden Jokowi bisa terus maju dengan sejumlah proyek infrastruktur utama untuk lebih menghubungkan pulau-pulau melalui jalan baru, pelabuhan, pembangkit listrik dan bandara, dan menciptakan lingkungan bisnis yang lebih ramah-investor.
"Saya pikir,pembicaraan tentang infrastruktur sangat penting. Masalah yang dimiliki negara ini adalah untuk membangun infrastruktur agar membantu kelancaran aktivitas ekonomi,” kata analis Kevin Evans.
Presiden Jokowi dinilai tak terlalu mempedulikan kekhawatiran internasional tentang dampak eksekusi mati. Tapi baru-baru ini, kondisi pasar saham
- Dunia Hari Ini: Terpidana Mati Kasus Narkoba Mary Jane Dipulangkan ke Filipina
- Australia Juara Menangkap Pengunjuk Rasa Lingkungan
- Dunia Hari Ini: Assad Buka Suara Lebih dari Seminggu Setelah Digulingkan
- Lima Anggota Bali Nine Sudah Kembali dan Akan Hidup Bebas di Australia
- Dunia Hari Ini: Warga Australia Keracunan Minuman Beralkohol di Fiji
- Sekolah di Australia yang Menutup Program Bahasa Indonesia Terus Bertambah, Ada Apa?