PDIP Minta Buzzer Setop Sebar Fitnah di Medsos

jpnn.com, JAKARTA - Tensi politik mulai memanas menjelang Pilkada Serentak 2018, Pemilu, dan Pilpres 2019.
Hoaks dan berita berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) mulai bertebaran.
Tidak hanya menyerang personal, isu SARA dan hoaks juga menghantam partai politik.
Salah satunya adalah PDI Perjuangan yang menjadi pendukung utama pemerintah.
“Sebagai partai berkuasa dan pendukung Pemerintah, PDI Perjuangan kerap menjadi korban hoaks yang merugikan. Saat pilkada 2017 beberapa kandidat PDI Perjuangan ‘digembosi’ dengan isu hoaks dan SARA. Itu efektif melumpuhkan,” ujar Nurfahmi Budi Prasetyo, tenaga ahli anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Henry Yosodiningrat, Selasa (13/2).
Fahmi menambahkan, PDIP juga kerap dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Menurut Fahmi, isu itu dilempar pihak tidak bertanggung jawab untuk memengaruhi generasi milenial selaku mayoritas user di media sosial yang dikelompokkan sebagai entitas massa mengambang dan kelompok Islam.
“Dari media sosial, arus informasi cepat menyebar hingga ke grup WhatsApp dan dibaca banyak kalangan. Mulai ibu-ibu pengajian, majelis taklim, orang kantoran yang apolitis, dan sebagainya. Setelah itu menjadi obrolan warung kopi yang begitu massif. Hoaks cepat menyebar karena masih rendahnya literasi dan minat baca bangsa kita. Baru baca judulnya, tanpa mengklarifikasi, orang sudah menjustifikasi sebuah isu,” ungkap Fahmi.
Tensi politik mulai memanas menjelang Pilkada Serentak 2018, Pemilu, dan Pilpres 2019.
- IRT di Inhu Mengaku Dibegal, Saat Diselidiki Polisi, Ternyata
- Mahasiswa Imbau Masyarakat Jangan Terprovokasi Hoaks di Medsos
- Jawaban Puan Maharani Soal Rencana Penunjukan Plt Sekjen PDIP
- Akademisi Sebut Hoaks Hambat Perkembangan Generasi Indonesia Emas 2045
- Sisa Anggaran Pilkada Rp 102 Miliar, PSU Tasikmalaya Dipastikan Aman
- Tak Banyak Kader PDIP Ikut Retret di Magelang, Hubungan Pusat & Daerah Tetap Aman?