Pecahan Granat Tertanam di Tubuh, Kuat Renang 300 M
Sabtu, 05 Desember 2009 – 05:26 WIB

Des Alwi Abubakar berpose di depan lukisan Srihadi Soedarsono yang secara khusus diberikan kepadanya. (Foto: Agung Putu Iskandar/JawaPos)
Des juga mengurangi konsumsi nasi. Tiap makan, porsi nasi dikurangi hingga separo. Sarapan pun tidak pakai nasi. Dia makan toast alias roti bakar plus beberapa selai. Yang juga jadi favorit dia adalah ikan laut mentah. Semua ikan laut dimakan Des dengan lahap.Kendati merasa sehat secara fisik, dia juga tetap harus check-up. Tiap enam bulan sekali Des mengecek kondisi darahnya di rumah sakit. Dengan begitu, dirinya bisa terus mengetahui perkembangan kesehatannya. "Hasilnya selalu baik," jelasnya.
Kini, di sela-sela kesibukannya, Des sedang menyiapkan buku ke-7. Buku itu bakal bercerita tentang detail perang di Surabaya. Buku tersebut, salah satunya, akan berisi tentang orang-orang yang meninggal dalam perang 10 November 1945. Sebab, banyak pahlawan perang yang tak jelas berita kematiannya. Apa judulnya" "Iya ya, apa ya judulnya" Masih belum ada," ujarnya dengan dahi bekernyit. (*/iro)
Usia pelaku sejarah Des Alwi sudah merambah 80-an. Tapi, kemampuan fisiknya masih prima. Begitu pula ingatannya. Tetap tajam. Kebiasaan makan dan
Redaktur & Reporter : Soetomo
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara