Pelajar Putri Asal Tiongkok Jadi Korban Penculikan Virtual di Australia

"Pria berusaia 22 tahun ini dihubungi oleh mereka yang berpura-pura menjadi polisi Tiongkok dan mengatakan dia harus menemui pelajar tersebut dan membawanya ke rumahnya, karena dia saksi yang dilindungi oleh polisi Tiongkok," kata Detective Chief Superintendent Darren Bennett dari Kepolisian NSW.
Pria tersebut dan pelajar putri ini bertemu di dekat Sydney Fish Market sebelum kemudian bersama-sama menuju ke apartemen milik pria tersebut.
Selama beberapa hari si pelajar putri mengirimkan video kepada keluarganya, mengatakan dia adalah korban penculikan dan keluarganya harus membayar tebusan bagi pembebasannya.
Video dan foto yang dikirim pelajar kepada keluargnya lewat media sosial WeChat dan diambil ketika pria berusia 22 tahun tersebut sedang kuliah dan tidak mengetahui sama sekali kejadiannya.
"Video itu pada dasarnya hanya menunjukkan pelajar tersebut duduk di kasur atau di kursi dan mengatakan dia ditahan. Tidak ada rincian lainya namun itu sudah cukup membuat keluarganya khawatir," kata Superintendent Bennett.
Orang tuanya kemudian mengirim uang sebanyak $213 ribu, lebih Rp2,1 miliar ke sebuah rekening bank di Bahamas.
"Pelajar itu tidak pernah dalam keadaan bahaya. Mereka membayar tebusan lebih dari $200 ribu tanpa alasan sama sekali," kata Superintendent Bennett.

Seorang pelajar putri berusia 18 tahun asal Tiongkok menjadi korban penipuan dan penculikan virtual di Australia
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi