Pelempar Sepatu jadi Pahlawan Arab
Rabu, 17 Desember 2008 – 10:29 WIB

Foto : AP
Sejak Iraq dicabik perang pada 2003, kebencian Muntadar kepada AS sebagai negara penggagas perang memuncak. ”Dia selalu merasa prihatin dan kecewa pada masyarakat Iraq yang dijajah Amerika secara fisik dan dijajah Iran secara moral,” ungkap pria 32 tahun itu. Penderitaan dan kemiskinan yang menjadi santapan sehari-hari rakyat Iraq itu memantik amarah Muntadar hingga dia berani melempar Bush dengan sepatu.
”Tidak jarang dia menangis saat meliput keluarga miskin Iraq. Dia juga sering menghimpun dana dari para koleganya untuk diberikan kepada keluarga tersebut,” terus Durgham. Terutama, setelah dia meliput keluarga Iraq di Kota Sadr yang selama ini selalu menjadi medan pertempuran pasukan koalisi dan pengikut ulama radikal Moqtada al-Sadr yang sangat anti-AS.
Rencananya, keluarga al-Zaidi bakal menyewa pengacara Mesir guna membela Muntadar. Terpisah, mantan pengacara mendiang Saddam Hussein, Khalil al-Dulaimi, menyatakan bersedia membela Muntadar. ”Pembelaan kami akan didasarkan pada fakta penjajahan AS terhadap bumi Iraq. Karena itu, segala macam bentuk perlawanan dilegalkan. Termasuk melempar sepatu,” tandasnya kepada The Hindustan Times.
Sementara itu, insiden pelemparan sepatu yang sesuai kultur Arab adalah bentuk penghinaan terendah tersebut mengundang perhatian Presiden Venezuela Hugo Chavez. Dalam wawancara dengan Reuters kemarin, pemimpin anti-AS itu mengaku terkesan dengan aksi Muntadar. Sebab, melancarkan aksi nekat semacam itu membutuhkan keberanian tingkat tinggi. Apalagi, dalam event itu, Bush mendapatkan pengawalan.
BAGHDAD – Insiden pelemparan sepatu terhadap Presiden AS George W. Bush Minggu malam waktu Iraq (Senin dini hari WIB), berbuah petaka bagi
BERITA TERKAIT
- Gempa M 7,2 Melanda Lepas Pantai Papua Nugini
- Gempa Myanmar, Korban Meninggal Dunia Mencapai 3.301 Orang
- Tornado Menyapu Amerika, 55 Juta Jiwa Terancam
- Trump Berulah, Macron Desak Perusahaan Prancis Setop Berinvestasi di Amerika
- Kanselir Jerman Sebut Donald Trump Merusak Tatanan Niaga Global
- Lebih dari 3.000 Orang Tewas Akibat Gempa Myanmar