Pemalsuan Seni Indonesia Dibahas di Melbourne

Jenis pemalsuan yang sering menipu kolektor bukanlah yang menggunakan cara penjiplakan sebuah lukisan asli, jelasnya, melainkan dengan cara membuat lukisan baru namun menggunakan gaya melukis yang sering dipakai seorang maestro, lalu lukisan baru itu dijual sebagai karya asli sangmaestro.
Lesley Alway, direktur lembaga Asialink Arts, yang bernaung di bawah University of Melbourne, menyatakan bahwa masalah pemalsuan karya pun masih muncul di Australia, terutama dalam bidang seni khas bumiputera.
“Saya rasa [pembahasan ini] sudah pernah kita dengar sebelumnya di Australia, dengan adanya booming seni bumiputera aborigin,” ucapnya.
Ketimpangan dan Keberlanjutan
Selain masalah seputar pemalsuan karya, berbagai masalah lain seputar dunia seni di Asia dan Australia dibahas dalam simposium tersebut.
Kelly Gellatly, direktur Museum Ian Potter di Melbourne, mempertanyakan apakah seniman dari negara-negara dengan penghasilan rendah seperti Indonesia mendapat perlakuan beda saat diundang ke Australia dibanding seniman dari negara maju.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa kegemaran akan seni dari negara-negara Asia bisa jadi semacam demam atau tren yang akan berlalu.
Kurangnya pengetahuan tentang sejarah seni adalah salah satu sebab mengapa karya seni palsu, yang mengatasnamakan nama maestro Indonesia, banyak
- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun
- Dunia Hari Ini: PM Australia Sebut Rencana Militer Rusia di Indonesia sebagai 'Propaganda'
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia