Pemerintah Kembali Tegaskan Rumah Subsidi Dilarang Diperjualbelikan

jpnn.com - JAKARTA - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) kembali menegaskan agar masyarakat jangan coba-coba memperjualbelikan rumah yang disubsidi pemerintah. Jika aturan ini dilanggar maka pembeli tersebut akan mendapat sanksi pidana denda.
"Konsumen yang membeli rumah dengan menggunakan fasilitas subsidi tidak boleh diperjualbelikan selama lima tahun untuk rumah tapak dan 10 tahun rumah susun," tegas Deputi Bidang Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo dalam siaran persnya yang diterima JPNN, Kamis (11/9).
Setelah masa tenggang tersebut, lanjutnya, rumah bisa dialihkan atau dijual kepada sesama masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui badan yang ditunjuk pemerintah, yaitu BLU – Pusat Pembiayaan Perumahan. Ada sanksi pidana denda bagi yang melanggar aturan ini.
"Hal itu sebagai upaya pemerintah agar subsidi tidak salah sasaran dan hanya untuk masyarakat yang benar-benar membutuhkan rumah. Sebelum akad kredit KPR dilakukan, konsumen juga harus menandatangani perjanjian dengan BLU – PPP yang isinya bahwa rumah tersebut tidak boleh dialihkan,” papar Sri.
Ditambahkannya, pemerintah khususnya Kemenpera terus berupaya mengatasi backlog perumahan dengan berbagai strategi. Namun semua itu tidak akan terwujud jika tidak didukung semua pihak, baik pemerintah daerah, pengembang dan masyarakat itu sendiri. (esy/jpnn)
JAKARTA - Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) kembali menegaskan agar masyarakat jangan coba-coba memperjualbelikan rumah yang disubsidi pemerintah.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Bank DKI Lakukan Pemeliharaan Sistem, Begini Respons Stafsus Gubernur Jakarta
- Volume Kendaraan Meroket, ASDP Pastikan Layanan Arus Balik di Pelabuhan Bakauheni Aman & Terkendali
- Tarif Impor AS Naik, Industri Mebel Indonesia Terancam Lesu
- Rudi Hartono Bangun: Kebijakan AS Harus Disikapi dengan Hati-Hati
- Riza Primahendra Sampaikan Kajian Perkumpulan Amerta Soal Fenomena Ekonomi Lebaran 2025
- Waka MPR Eddy Soeparno Angkat Bicara soal Protes AS Terhadap Kebijakan TKDN Indonesia