Pemilik Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia Minta Lebih Diperhatikan
Kenapa deflasi ikut menurunkan daya beli?
Dalam lima bulan berturut-turut, Indonesia mencatat deflasi dengan persentase akhir di angka 0.12 persen pada bulan September kemarin.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan penyebabnya didorong oleh harga-harga pangan.
Awal bulan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan deflasi selama lima bulan berturut-turut masih menunjukkan bahwa ekonomi di Indonesia masih "positif".
"Itu menurut saya merupakan suatu perkembangan yang positif karena ini akan sangat menentukan daya beli masyarakat terutama kelompok menengah bawah yang pengeluaran untuk makanan itu paling besar," ujarnya, seperti yang dikutip dari Kompas.com.
Seharusnya harga pangan yang turun bisa lebih terjangkau, tapi penurunan harga ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga serta inflasi di tahun lalu, sementara saat itu upah tidak ikut naik.
Seperti yang dikatakan oleh Eliza Mardian, peneliti dari CORE Indonesia, yang menurutnya deflasi berturut-turut saat ini menjadi "peringatan" karena menunjukkan daya beli yang melemah.
Saat harga pangan, misalnya cabai, yang turun padahal bukan musim panen menjadi situasi yang mengkhawatirkan, kata Eliza.
"Kalau permintaan terus menerus melemah, perusahaan bahkan akan mengurangi aktivitas produksinya ... berarti akan ada pengurangan aktivitas pembelian bahan baku, komponen, dan lain-lain," ujarnya.
Deflasi yang terjadi berturut-turut dalam lima bulan terakhir menjadi sinyal kalau ekonomi di Indonesia tidak sedang baik-baik saja
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang
- 'Jangan Takut': Konsolidasi Masyarakat Sipil Setelah Teror pada Tempo
- Forum Gerak Pemuda Desak Pemerintah Lakukan Audit NGO Penerima Dana Asing
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Krisis Telur, Sampai Terpaksa Impor