Pengamat Menyoroti Wacana Kenaikan BBM Pertalite, Mengungkit soal IKN, Jleb!

Pertama, pemerintah mengalami surplus dari penggunaan APBN sebesar Rp 73,6 triliun per Juni 2022, masih ada dana yang belum dioptimalkan.
Kedua, ada pembangunan infrastruktur yang masih bisa ditunda karena tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat seperti pembangunan IKN dan kereta api cepat.
Artinya, kata Achmad menaikan harga BBM lebih berisiko ketimbang menunda pembangunan baik IKN ataupun kereta api cepat.
Selain itu, atas dasar pertimbangan tersebut tentunya subsidi BBM masih sangat diperlukan.
Kemudian, diwaktu yang sama pemerintah harus mengupayakan kemandirian energi dengan penggunaan kendaraan listrik, kompor listrik, produksi biofuel untuk berbagai jenis kendaraan yang dimiliki masyarakat Indonesia.
"Jika ini berjalan maka negara ini akan punya kemandirian dari sisi energi, tidak tergantung pada minyak impor dan tentunya penggunaan subsidi akan bisa diminimalisir," ungkapnya.
Achmad menegaskan jika pemerintah benar-benar prorakyat maka solusi-solusi di atas ialah solusi yang akan diambil. (mcr28/jpnn)
Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute Achmad Nur Hidayat menilai wacana kenaikan Pertalite dan Solar lebih berisiko ketimbang menunda IKN
Redaktur : Elvi Robiatul
Reporter : Wenti Ayu Apsari
- Kaya Susah
- Kado Lebaran dari Pertamina: Harga BBM Non-Subsidi Turun Mulai Hari Ini 29 Maret 2025
- Kado Idulfitri Pertamina Turunkan Harga BBM Jenis Ini
- Waka MPR Eddy Soeparno Tekankan Transisi Harus Menguatkan Ketahanan Energi Nasional
- Mudik Nyaman Bersama Pertamina: Layanan 24 Jam, Motoris dan Fasilitas Lengkap
- Polresta Bandung Sidak SPBU Nagreg, Pastikan Takaran BBM Akurat saat Arus Mudik